Raja Hutan Vs Gajah

Di sebuah hutan terdapat raja hutan (singa) yang merasa dirinya hebat. Dan untuk melegalisasikan kehebatannya, maka si singa bertanya kepada sebagian penghuni hutan. Bertanyalah si singa kepada seekor gorila.

Singa : “Hai gorila, siapakah yang paling gagah di hutan ini?”

Gorila: “Anda tuan ku.”

Banggalah si singa mendengar itu. Kemudian ia bertemu dengan seekor banteng.

Singa : “Hai banteng, siapakah yang paling gagah dan hebat di hutan ini?”

Banteng: “Sudah tentu Anda.”

Mendengar jawaban-jawaban dari sebagian hewan yang ia temui, merasa sombonglah si singa. Kemudian ia berjalan kembali, dan di tengah jalan ia bertemu dengan seekor gajah.

Singa : “Hai gajah, siapakah yang paling gagah dan perkasa di hutan ini?”

Tetapi gajah tidak menjawab, dan diluar dugaan singa, gajahlangsung menghajar dan menginjak-injak singa hingga babak belur. Kemudian gajah berlalu meninggalkan si singa.

Dengan badan yang sudah babak belur, si singa berkata kepadagajah, “Kalo nggak tau jawabannya jangan marah gitu dong ….”(sbs/lpk)

dipetik dari: KapanLagi.com

Maaf… ini tentang arti kata “Jancuk”

Jancuk..

Ini makian asli khas Suroboyo. Tapi, makian ini kini sudah merambah ke jurusan Barat dari Jawa Timur. Misalnya, kawasan Barat, sekitar Madiun, Ponorogo, dan bahkan sudah mulai masuk Solo, Yogya, bahkan Bandung tempat saya kuliah. Makian ini semakin banyak didengar. Hal ini seiring dengan makin mobilitasnya komunitas Arek Suroboyo ke seluruh daerah.

Jancuk memang memiliki penggal kata, kalau tak boleh disebut sebagai suku kata. Awal pembentuk makian ini, yaitu ‘cuk’. Suku kata ‘cuk’ ini dengan mudah bisa kita cari sumbernya, yaitu kata ‘encuk’, yang artinya *maaf* persetubuhan, seperti ‘fuck’. Kata ‘encuk’ jelas masih dianggap porno kalau diungkapkan di kelompok orang yang masih rada risih. Akibatnya, mereka yang suka memaki ‘jancuk’ dikategorikan sebagai orang-orang kelas bawah.

Cerita-cerita mengenai heroisme komunitas Arek Suroboyo, membuat kata jancuk ini dipakai untuk menegaskan identitas seseorang untuk menggunakan kata ini pula. Tetapi, ada beberapa cara penggunaan yang keliru, sehingga terkesan kurang genuine. Hanya mereka yang pernah akrab dengan suasana pergaulan antar Arek yang bisa terdengar fasih mengucapkan kata-kata jancuk dan variannya dengan benar. Arek Suroboyo bilang itu ‘leko’, seperti makanan yang nikmat, berminyak, dengan bumbu-bumbu komplit. Sayur asem, jelas bukan jenis masakan yang berkategori ‘leko’. Tetapi orang bisa makan dengan ‘leko’-nya, meski dengan sayur asem, tapi ditambah ikan asin, dan sambel bajak serta nasi putih nan punel.

Varian-varian dari Jancuk adalah diancuk, diamput, jamput, jangkrik, dan mbokne ancuk. Jangkrik merupakan pengalihan atau penghalusan dari kata jancuk, berkategori makian juga, agar masih bisa disebut orang yang sopan. Tapi kalau sudah ingin memaki karena betul-betul sudah sangat marah, pasti yang dipakai jancuk, bukannya jangkrik.

Demikian juga dengan jamput dan diamput. Ini levelnya antara jancuk dan jangkrik. Per vokal, sudah mendekati jancuk makian nan kasar, tetapi dibungkus dengan akhiran yang rada sopan. Ini terlihat dari pemilihan kata ‘put’ yang masih membuat bentuk bibir terlihat manis. Pada diamput maupun jamput masih ada upaya untuk menekan makian agar tak terlalu kasar. Lebih-lebih bagi mereka yang memiliki status sosial menengah ke atas. Atau, pas lagi berada di kerumunan kelompok ini. Biasanya juga diucapkan secara perlahan.

Meski kata jancuk dan turunannya tersebut sudah akrab di telinga kalangan Arek Suroboyo, penggunaan kata tersebut untuk memaki masih menjadi sebuah pemancing terjadinya kesalahpahaman. Dimulai dari kekagetan yang dimaki, lalu terjadi pandang-pandangan, maka kesalahpahaman pasti akan muncul. Padahal, maksudnya bukan memaki, cuma kaget saja. Anda kena senggol puntung rokok, secara spontan bisa keluar kata ‘jancuk’ dengan intonasi keras. Penyenggol, yang merasa tak sengaja, pas dia punya tongkrongan lebih seram, akan menjawab kekagetan tersebut dengan pelototan yang bermakna: ‘mau apa loe!’. Jancuk berkembang tak cuma sekedar menjadi makian untuk melengkapi sebuah kekagetan atau kemarahan tetapi menjadi sebuah cara mengungkapkan sesuatu yang bersifat superlatif. Seperti ‘fucking’ atau ‘bloody’ yang diikuti dengan kata lain, untuk menegaskan adanya sesuatu yang lebih dari kata tersebut. Penggunaan jancuk untuk keperluan lain bisa dengan kata
‘jancuk’ atau ‘jancukan’. Tempelkan kata apa saja dan lihatlah jika kata yang ditempelkan tersebut bersifat negatip, maka dia benar-benar dimaksudkan untuk menekankan sebuah perilaku atau keadaan yang benar-benar sangat-sangat negatip.

Arek Suroboyo bisa memilih menggunakan kata jancuk kalau itu untuk memberikan komentar, seperti ‘jancuk elek-e‘, karena mereka begitu kesal melihat sesuatu yang ‘elek’ itu tadi. Misalkan sedang melihat sebuah tayangan televisi yang jelek.

Sebaliknya penggunaan kata ‘jancukan’ dilakukan untuk sesuatu yang telah lewat, ketika mereka hendak menceritakan sesuatu hal kepada orang lain. Wah ‘jancukan elek-e’, misalkan ketika hendak menceritakan sebuah tayangan televisi yang sudah dilihat, dan mau diceritakan kepada orang lain.
Kalau kata yang mengiringi jancuk maupun ‘jancukan’ tadi sesuatu yang positip, maka itu adalah sebuah pengakuan yang tulus terhadap sesuatu yang benar-benar positip. ‘Jancuk ayune, rek‘, karena ada Tamara Blezinky lewat. Dan mereka pun bisa cerita kepada teman bahwa pernah melihat Tamara Blezinky lewat. Seraya sambil mengacungkan jempol, mereka biasa bilang ‘jancukan ayune‘. Kalau mau seru bisa diikuti dengan kata ikutan ‘Sumpah !’, atau yang bisa dibikin rada lucu : ‘Sumprit !’. Jancuk bisa dipakai untuk menyapa akrab seseorang. Tapi tetap ingat, pada suasana apa kata ini dipakai. Seorang teman akrab bertemu, dan lontaran ‘Cuk (atau jancuk), jik urip peno, cak….‘ justru akan melahirkan sebuah suasana yang langsung cair dan gembira. Sapaan tersebut bermakna akrab persahabatan, jauh dari umpatan dengki permusuhan.

‘Jancukan’ bisa juga dipakai untuk memberi predikat. Tommy yang sudah menghabiskan uang negara tapi sembunyi, bisa dikenai predikat ini, yaitu ‘Tommy iku jancukan poll !’. Kalangan keturunan Cina biasanya menggunakan kata ’soro’ untuk mengganti kata ‘poll’ tadi. ‘Tommy iku jancukan soro!’. Biasanya, kata ikutan yang menyertainya adalah: ‘wis’. ‘Tommy iku jancukan poll, wis!’

Arek Suroboyo jika sedang gemas, biasa juga memakai kata jancuk. ‘Jancuuu………k !‘. ‘Jan’-nya diteriakkan secara pendek, lalu ikuti dengan teriakan ‘cuk’ yang panjang sampai tuntas rasa gemasnya. Bisa juga ketika terasa kesakitan. Jari terpukul martil, sambil memencet jari tersebut, ucapkan mantra ini, ‘jancuu….k‘. Bisa juga dipakai ketika lagi beol, tapi sulit keluar. Sambil mengejan, mantra ini manjur dipakai.

*dari sebuah sumber..

Jancuk..

Ini makian asli khas Suroboyo. Tapi, makian ini kini sudah merambah ke jurusan Barat dari Jawa Timur. Misalnya, kawasan Barat, sekitar Madiun, Ponorogo, dan bahkan sudah mulai masuk Solo, Yogya, bahkan Bandung tempat saya kuliah. Makian ini semakin banyak didengar. Hal ini seiring dengan makin mobilitasnya komunitas Arek Suroboyo ke seluruh daerah.

Jancuk memang memiliki penggal kata, kalau tak boleh disebut sebagai suku kata. Awal pembentuk makian ini, yaitu ‘cuk’. Suku kata ‘cuk’ ini dengan mudah bisa kita cari sumbernya, yaitu kata ‘encuk’, yang artinya *maaf* persetubuhan, seperti ‘fuck’. Kata ‘encuk’ jelas masih dianggap porno kalau diungkapkan di kelompok orang yang masih rada risih. Akibatnya, mereka yang suka memaki ‘jancuk’ dikategorikan sebagai orang-orang kelas bawah.

Cerita-cerita mengenai heroisme komunitas Arek Suroboyo, membuat kata jancuk ini dipakai untuk menegaskan identitas seseorang untuk menggunakan kata ini pula. Tetapi, ada beberapa cara penggunaan yang keliru, sehingga terkesan kurang genuine. Hanya mereka yang pernah akrab dengan suasana pergaulan antar Arek yang bisa terdengar fasih mengucapkan kata-kata jancuk dan variannya dengan benar. Arek Suroboyo bilang itu ‘leko’, seperti makanan yang nikmat, berminyak, dengan bumbu-bumbu komplit. Sayur asem, jelas bukan jenis masakan yang berkategori ‘leko’. Tetapi orang bisa makan dengan ‘leko’-nya, meski dengan sayur asem, tapi ditambah ikan asin, dan sambel bajak serta nasi putih nan punel.

Varian-varian dari Jancuk adalah diancuk, diamput, jamput, jangkrik, dan mbokne ancuk. Jangkrik merupakan pengalihan atau penghalusan dari kata jancuk, berkategori makian juga, agar masih bisa disebut orang yang sopan. Tapi kalau sudah ingin memaki karena betul-betul sudah sangat marah, pasti yang dipakai jancuk, bukannya jangkrik.

Demikian juga dengan jamput dan diamput. Ini levelnya antara jancuk dan jangkrik. Per vokal, sudah mendekati jancuk makian nan kasar, tetapi dibungkus dengan akhiran yang rada sopan. Ini terlihat dari pemilihan kata ‘put’ yang masih membuat bentuk bibir terlihat manis. Pada diamput maupun jamput masih ada upaya untuk menekan makian agar tak terlalu kasar. Lebih-lebih bagi mereka yang memiliki status sosial menengah ke atas. Atau, pas lagi berada di kerumunan kelompok ini. Biasanya juga diucapkan secara perlahan.

Meski kata jancuk dan turunannya tersebut sudah akrab di telinga kalangan Arek Suroboyo, penggunaan kata tersebut untuk memaki masih menjadi sebuah pemancing terjadinya kesalahpahaman. Dimulai dari kekagetan yang dimaki, lalu terjadi pandang-pandangan, maka kesalahpahaman pasti akan muncul. Padahal, maksudnya bukan memaki, cuma kaget saja. Anda kena senggol puntung rokok, secara spontan bisa keluar kata ‘jancuk’ dengan intonasi keras. Penyenggol, yang merasa tak sengaja, pas dia punya tongkrongan lebih seram, akan menjawab kekagetan tersebut dengan pelototan yang bermakna: ‘mau apa loe!’. Jancuk berkembang tak cuma sekedar menjadi makian untuk melengkapi sebuah kekagetan atau kemarahan tetapi menjadi sebuah cara mengungkapkan sesuatu yang bersifat superlatif. Seperti ‘fucking’ atau ‘bloody’ yang diikuti dengan kata lain, untuk menegaskan adanya sesuatu yang lebih dari kata tersebut. Penggunaan jancuk untuk keperluan lain bisa dengan kata
‘jancuk’ atau ‘jancukan’. Tempelkan kata apa saja dan lihatlah jika kata yang ditempelkan tersebut bersifat negatip, maka dia benar-benar dimaksudkan untuk menekankan sebuah perilaku atau keadaan yang benar-benar sangat-sangat negatip.

Arek Suroboyo bisa memilih menggunakan kata jancuk kalau itu untuk memberikan komentar, seperti ‘jancuk elek-e‘, karena mereka begitu kesal melihat sesuatu yang ‘elek’ itu tadi. Misalkan sedang melihat sebuah tayangan televisi yang jelek.

Sebaliknya penggunaan kata ‘jancukan’ dilakukan untuk sesuatu yang telah lewat, ketika mereka hendak menceritakan sesuatu hal kepada orang lain. Wah ‘jancukan elek-e’, misalkan ketika hendak menceritakan sebuah tayangan televisi yang sudah dilihat, dan mau diceritakan kepada orang lain.
Kalau kata yang mengiringi jancuk maupun ‘jancukan’ tadi sesuatu yang positip, maka itu adalah sebuah pengakuan yang tulus terhadap sesuatu yang benar-benar positip. ‘Jancuk ayune, rek‘, karena ada Tamara Blezinky lewat. Dan mereka pun bisa cerita kepada teman bahwa pernah melihat Tamara Blezinky lewat. Seraya sambil mengacungkan jempol, mereka biasa bilang ‘jancukan ayune‘. Kalau mau seru bisa diikuti dengan kata ikutan ‘Sumpah !’, atau yang bisa dibikin rada lucu : ‘Sumprit !’. Jancuk bisa dipakai untuk menyapa akrab seseorang. Tapi tetap ingat, pada suasana apa kata ini dipakai. Seorang teman akrab bertemu, dan lontaran ‘Cuk (atau jancuk), jik urip peno, cak….‘ justru akan melahirkan sebuah suasana yang langsung cair dan gembira. Sapaan tersebut bermakna akrab persahabatan, jauh dari umpatan dengki permusuhan.

‘Jancukan’ bisa juga dipakai untuk memberi predikat. Tommy yang sudah menghabiskan uang negara tapi sembunyi, bisa dikenai predikat ini, yaitu ‘Tommy iku jancukan poll !’. Kalangan keturunan Cina biasanya menggunakan kata ’soro’ untuk mengganti kata ‘poll’ tadi. ‘Tommy iku jancukan soro!’. Biasanya, kata ikutan yang menyertainya adalah: ‘wis’. ‘Tommy iku jancukan poll, wis!’

Arek Suroboyo jika sedang gemas, biasa juga memakai kata jancuk. ‘Jancuuu………k !‘. ‘Jan’-nya diteriakkan secara pendek, lalu ikuti dengan teriakan ‘cuk’ yang panjang sampai tuntas rasa gemasnya. Bisa juga ketika terasa kesakitan. Jari terpukul martil, sambil memencet jari tersebut, ucapkan mantra ini, ‘jancuu….k‘. Bisa juga dipakai ketika lagi beol, tapi sulit keluar. Sambil mengejan, mantra ini manjur dipakai.

*dari sebuah sumber..

Jazz Agenda di Jakarta – Complete..

untuk jazzlovers semuanya
baru nemu website yang berisi info jazz agenda
di jakarta dan beberapa lokasi di luar jakarta
silakan di check disini web nya :

http://www.jakartajazz.com/agenda/

tentang website http://www.jakartajazz.com :

Dunia jazz Indonesia menambah koleksi situs bertemakan jazz kali ini berbahasa inggris, yaitu jakartajazz.com. Situs ini diasuh oleh pianis asal Jerman Stefan Thiele. Kontennya sendiri cukup beragam seperti berita, agenda, profil musisi, juga ada seksi workshop dan jual/beli. Saat ini belum semua fitur bisa digunakan, namun Stefan berjanji semua fitur yang ada akan segera diaktifkan.

Situs ini resmi dibuka padahal tanggal 10 Desember 2008 yang lalu, dan pada acara peresmian hadir pula pianis jazz Nial Djuliarso yang tampil selama satu jam. Banyak tamu yang hadir pada malam itu, salah satunya adalah seorang pianis muda dari Bandung, David, yang baru berumur 15 tahun, tapi skill jazz-nya tidak bisa dianggap main-main, calon musisi handal (di ambil dari http://indraaziz.net/2008/12/jakartajazzcom-resmi-online/ )

Judul di Kompas.com Menyesatkan Share

silahkan di check di sini :

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/21/14185891/Wah..Darah.PMI.Mengandung.Virus.HIVAIDS

dari judul itu, secara sekilas menyebutkan bahwa PMI menyalurkan darah ke masyarakat yang mengandung virus HIV/AIDS, padahal kalau kita baca lebih detail, ternyata itu darah dari masyarakat, bukan yang di keluarkan oleh PMI dan di berikan ke Rumah Sakit.

Darah yang baru disumbangkan oleh pendonor tidak secara langsung bisa di transfusikan ke pasien, karena ada prosedur yang harus di lakukan untuk melakukan pengechekan kondisi darah tersebut, terutama untuk penyakit2 berbahaya, misalnya HIV/AIDS, Hepatitis B, dll. Dan untuk melakukan ini, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. setelah darah selesai pun tidak langsung di berikan ke pasien, menskipun itu mempunyai golongan darah yang sama, karena ada prosedur lagi untuk dilakukan pencocokan karakter darah nya.

itulah makanya ada BIAYA PENGGANTIAN DARAH. Ingat…PMI TIDAK MENJUAL DARAH. terjadi hal salah kaprah di masyarakat, bahwa PMI MENJUAL DARAH. Biaya ini di bebankan untuk melakukan pengecheckan diatas, serta biaya2 lain, seperti biaya kantor, tenaga orang nya, biaya bensin, alat pengecheckan, jarum (sekali pakai), dll. Kantong sampai saat ini masih imprt dari Jepun.

JAdi persepsi PMI MENJUAL DARAH ADALAH SALAH. semua biaya semata2 untuk mengganti biaya2 diatas.

silahkan mengecheck disini :

http://www.opensubscriber.com/message/dokter@itb.ac.id/3544636.html

http://utdd-pmijateng.blogspot.com/

http://www.pmiutdsby.org/darah.php

http://rapi-nusantara.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=117

seharusnya media sebesar KOMPAS bisa lebih bijaksana dalam membuat sebuah berita. Netral, dan memberikan fakta yang sebenarnya. Bukan membuat judul yang menyesatkan seperti ini.

Memang tuntutan komersil kadang lebih mengalahkan netralitas pers.

any comment..??

thanks

Mokhtar Hanafi

Alumni KSR PMI Unit ITN Malang

ex Anggota PMI Cabang Kota Malang

Finally itin 25-29 dec 2008

Finished final itin for this loong holiday, 25-29 Dec 2008.

– banten, ketemu temen lama,sambil muter2 touring bareng dia

– cirebon, sekalian ktm tmn lama juga

– semarang, one day trip kota semarang.

– kudus, niat utama mengunjungi tmn lama,sekalian numpang istirahat

– solo, grebek suro, puter2 ngglibet kota solo, ktm temen lama juga. renc juga ktmuan disini sama opang, echimono dan reni.. (ada yg mau joint lagi? )

– back to jkt, 30 dec dah ngantor. 😦

jadinya old friends trip nih..hehe.

semoga lancar.

Maaf⦠ini tentang arti kata âJancukâ?

Jancuk..

Ini makian asli khas Suroboyo. Tapi, makian ini kini sudah merambah ke jurusan Barat dari Jawa Timur. Misalnya, kawasan Barat, sekitar Madiun, Ponorogo, dan bahkan sudah mulai masuk Solo, Yogya, bahkan Bandung tempat saya kuliah. Makian ini semakin banyak didengar. Hal ini seiring dengan makin mobilitasnya komunitas Arek Suroboyo ke seluruh daerah.

Jancuk memang memiliki penggal kata, kalau tak boleh disebut sebagai suku kata. Awal pembentuk makian ini, yaitu âcukâ. Suku kata âcukâ ini dengan mudah bisa kita cari sumbernya, yaitu kata âencukâ, yang artinya *maaf* persetubuhan, seperti âfuckâ. Kata âencukâ jelas masih dianggap porno kalau diungkapkan di kelompok orang yang masih rada risih. Akibatnya, mereka yang suka memaki âjancukâ dikategorikan sebagai orang-orang kelas bawah.

Cerita-cerita mengenai heroisme komunitas Arek Suroboyo, membuat kata jancuk ini dipakai untuk menegaskan identitas seseorang untuk menggunakan kata ini pula. Tetapi, ada beberapa cara penggunaan yang keliru, sehingga terkesan kurang genuine. Hanya mereka yang pernah akrab dengan suasana pergaulan antar Arek yang bisa terdengar fasih mengucapkan kata-kata jancuk dan variannya dengan benar. Arek Suroboyo bilang itu âlekoâ, seperti makanan yang nikmat, berminyak, dengan bumbu-bumbu komplit. Sayur asem, jelas bukan jenis masakan yang berkategori âlekoâ. Tetapi orang bisa makan dengan âlekoâ-nya, meski dengan sayur asem, tapi ditambah ikan asin, dan sambel bajak serta nasi putih nan punel.

Varian-varian dari Jancuk adalah diancuk, diamput, jamput, jangkrik, dan mbokne ancuk. Jangkrik merupakan pengalihan atau penghalusan dari kata jancuk, berkategori makian juga, agar masih bisa disebut orang yang sopan. Tapi kalau sudah ingin memaki karena betul-betul sudah sangat marah, pasti yang dipakai jancuk, bukannya jangkrik.

Demikian juga dengan jamput dan diamput. Ini levelnya antara jancuk dan jangkrik. Per vokal, sudah mendekati jancuk makian nan kasar, tetapi dibungkus dengan akhiran yang rada sopan. Ini terlihat dari pemilihan kata âputâ yang masih membuat bentuk bibir terlihat manis. Pada diamput maupun jamput masih ada upaya untuk menekan makian agar tak terlalu kasar. Lebih-lebih bagi mereka yang memiliki status sosial menengah ke atas. Atau, pas lagi berada di kerumunan kelompok ini. Biasanya juga diucapkan secara perlahan.

Meski kata jancuk dan turunannya tersebut sudah akrab di telinga kalangan Arek Suroboyo, penggunaan kata tersebut untuk memaki masih menjadi sebuah pemancing terjadinya kesalahpahaman. Dimulai dari kekagetan yang dimaki, lalu terjadi pandang-pandangan, maka kesalahpahaman pasti akan muncul. Padahal, maksudnya bukan memaki, cuma kaget saja. Anda kena senggol puntung rokok, secara spontan bisa keluar kata âjancukâ dengan intonasi keras. Penyenggol, yang merasa tak sengaja, pas dia punya tongkrongan lebih seram, akan menjawab kekagetan tersebut dengan pelototan yang bermakna: âmau apa loe!â. Jancuk berkembang tak cuma sekedar menjadi makian untuk melengkapi sebuah kekagetan atau kemarahan tetapi menjadi sebuah cara mengungkapkan sesuatu yang bersifat superlatif. Seperti âfuckingâ atau âbloodyâ yang diikuti dengan kata lain, untuk menegaskan adanya sesuatu yang lebih dari kata tersebut. Penggunaan jancuk untuk keperluan lain bisa dengan kata

âjancukâ atau âjancukanâ. Tempelkan kata apa saja dan lihatlah jika kata yang ditempelkan tersebut bersifat negatip, maka dia benar-benar dimaksudkan untuk menekankan sebuah perilaku atau keadaan yang benar-benar sangat-sangat negatip.

Arek Suroboyo bisa memilih menggunakan kata jancuk kalau itu untuk memberikan komentar, seperti âjancuk elek-eâ, karena mereka begitu kesal melihat sesuatu yang âelekâ itu tadi. Misalkan sedang melihat sebuah tayangan televisi yang jelek.

Sebaliknya penggunaan kata âjancukanâ dilakukan untuk sesuatu yang telah lewat, ketika mereka hendak menceritakan sesuatu hal kepada orang lain. Wah âjancukan elek-eâ, misalkan ketika hendak menceritakan sebuah tayangan televisi yang sudah dilihat, dan mau diceritakan kepada orang lain.

Kalau kata yang mengiringi jancuk maupun âjancukanâ tadi sesuatu yang positip, maka itu adalah sebuah pengakuan yang tulus terhadap sesuatu yang benar-benar positip. âJancuk ayune, rekâ, karena ada Tamara Blezinky lewat. Dan mereka pun bisa cerita kepada teman bahwa pernah melihat Tamara Blezinky lewat. Seraya sambil mengacungkan jempol, mereka biasa bilang âjancukan ayuneâ. Kalau mau seru bisa diikuti dengan kata ikutan âSumpah !â, atau yang bisa dibikin rada lucu : âSumprit !â. Jancuk bisa dipakai untuk menyapa akrab seseorang. Tapi tetap ingat, pada suasana apa kata ini dipakai. Seorang teman akrab bertemu, dan lontaran âCuk (atau jancuk), jik urip peno, cakâ¦.â justru akan melahirkan sebuah suasana yang langsung cair dan gembira. Sapaan tersebut bermakna akrab persahabatan, jauh dari umpatan dengki permusuhan.

âJancukanâ bisa juga dipakai untuk memberi predikat. Tommy yang sudah menghabiskan uang negara tapi sembunyi, bisa dikenai predikat ini, yaitu âTommy iku jancukan poll !â. Kalangan keturunan Cina biasanya menggunakan kata âsoroâ untuk mengganti kata âpollâ tadi. âTommy iku jancukan soro!â. Biasanya, kata ikutan yang menyertainya adalah: âwisâ. âTommy iku jancukan poll, wis!â

Arek Suroboyo jika sedang gemas, biasa juga memakai kata jancuk. âJancuuuâ¦â¦â¦k !â. âJanâ-nya diteriakkan secara pendek, lalu ikuti dengan teriakan âcukâ yang panjang sampai tuntas rasa gemasnya. Bisa juga ketika terasa kesakitan. Jari terpukul martil, sambil memencet jari tersebut, ucapkan mantra ini, âjancuuâ¦.kâ. Bisa juga dipakai ketika lagi beol, tapi sulit keluar. Sambil mengejan, mantra ini manjur dipakai.

*dari sebuah sumber..

Nyumet Mercon

Kentir pethuk ambek konco lawase sing jenenge Kentus.
Pas ketemu arek loro iku podho kagete mergo Kentir ambek Kentus
podho-podho
sirae petal, raine gosong ambek untune yo podho bogange.
Arek loro iku takok takokan opoko kok isok podho bocele.

Kentir cerito lek raine rusak, sirae petal, ambek untune ngowos mergo
melok
nyemprot kobongan ambek mangap.
"Pas aku mangap dhadhak onok elpiji mbledhos" jare Kentir.

Mari ngono Kentir takok nang Kentus opoko kok sirae petal.

"Mari teraweh aku nyumet mercon ambek rokok. Mari tak sumet, mercone tak
sawatno wong dhodhol soto terus ndhelik ambek ngisep rokok.
Dhadhak wonge ngerti, aku diuber terus sirahku digepuki pikulane soto"
jare Kentus.

"Lha lek raimu opoko kok gosong" takok Kentir maneh.
"Mari sirahku waras, aku merconan maneh. Mari tak sumet ambek rokok,
mercone tak sawatno wong dhodhol bakso terus dhelik maneh ambek ngisep
rokok. Dhadhak aku ketemon maneh, aku diuber mari ngono diguyang
dhudhuhe bakso" jare Kentus.

"Wok nemen kon iku, ngono yo gak kapok. Lha lek untumu opoko kok guwung
kabeh ?" takok Kentir maneh.

"Oo lek iki seje ceritone. Pas katene nyumet mercon dhadhak onok arek
pacaran liwat"

"Kapok kon, mulakno tah ojok seneng nginceng. Paling kon digibheng ambek
sing lanang " jare Kentir kemeruh.

"Gak ngono ceritone . ." jare Kentus.

"Opoko lho . .?" takok Kentir.

"Aku lali . . . Rokokku sing tak sawatno. . ."